Dalam kehidupan sehari-hari, selain beraktifitas pasti manusia akan tidur. Hal ini penting dilakukan dan menuntut terpenuhinya kualitas tidur yang baik. Jika tidak akan mengakibatkan gangguan psikotik.
Ada beberapa fase dalam tidur :
- fase pertama : gelombang otak menjadi tidak teratur dan gelombang theta semakin melambat. Pada fase ini orang akan sangat mudah terbangun. Ada kemungkinan terjadinya mimpi dan akan terbangun dan tersentak secara tiba-tiba.
- Sleep pindle : otot-otot akan lebih rileks, nafas dan detak jantung lebih lambat, mimpi mungkin terjadi dan lebih sulit untuk dibangunkan.
- Fase 3 : gelombang delta mendominasi, badan lebih rileks, aktifitas otak menurun. Hal ini terjadi 20-30 menit setelah tidur.(fase nonREM terjadi 0-60 menit setelah tidur)
- REM (Rapid Eye Movement) : Mimpi lebih sering terjadi, detak jantung mengencang, nafas lebih cepat dan tidak teratur, dan gelombang otak menyerupai ketika terbangun.(fase REM terjadi 60-90 menit setelah tidur)
Mimpi yang dapat diingat dari tidur nonREM cenderung berupa mimpi pengalaman terpisah. contohnya mimpi terjatuh, dan kemidian kita akan terbangun secara tiba-tiba (tersentak). Orang jawa biasa menyebutnya dengan istilah "gragaben". Sementara mimpi yang terkait dengan tidur di fase REM cenderung berbentuk mimpi naratif (cerita).
Menurut Sigmund Freud mimpi terjadi karena dipicu oleh keinginan yang tidak terpenuhi (wish fulfillment)
Teori lain yaitu teori Sintesis-aktifitas menyebutkan bahwa mimpi tidak memiliki fungsi tertentu. Mimpi hanyalah produk dari aktifitas saraf ketika terjadi REM. Informasi yang dipasok ke korteks selama tidur REM kebanyakan acak dan bahwa mimpi yang dihasilkan adalah upaya koeteks untuk memahami sinyal-sinyal acak itu.
Menurut teori kognitif : Berdasarkan problem solving dream models, mimpi tidak berasal dari realita oleh karena itu bisa dijadikan alat bantu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih kreatif.