Senin, 18 Agustus 2014

Labirin

Aku kira aku tersesat, kamu juga. Aku kira kita sudah membuang berjuta kata-kata dalam satu ruangan, tempat, di bawah langit. Aku kira kita sudah menjalani sekelumit hari tanpa kita saling menyampah itu lagi. Aku kira ada sebab kita bisa kembali mengumbar apa yang bisa kita umbar berdua, setelah kita memungutinya kembali.

Awalnya, waktu dan adanya kamu mirip seperti labirin yang luas semakin banyak cabang. Banyak jalan buntu, banyak tipuan. Dan aku pusing, kamu enggan memberikan jalan yang simple untukku. Akupun. wajahmu sempat memarah, suaramu meninggi, amarah lepas karena labirinku lebih memusingkan.

Ahh.. Tapi masih aku ingat tatapan pertama itu. Saat sama sekali tak ada maghnet di antara aku dan kamu. Partikel tarik menarik belum aku jumpai. Sampai ke spasi waktu berikutnya kamu bercerita tentang sabtu siang itu, bulan sebelas itu, penghujung tahun 2012 itu dan pujian itu. Iya, aku tersanjung dengan pemanis bibir mu. Yang sangat aku simpan dalam kepala, yang kemudian kamu bilang "mbiyen gur iso nyawang, saiki wes neng sandingku". Sederhana, sesederhana caraku tertarik padamu. Aku suka skenario Tuhan saat itu. Tak ku kira orang itu akan menjadi sangat punya arti.

Badai tak bisa kita hindari. Kamu mungkin sedikit paham ketika aku berusaha keluar dari zona nyamanmu. Keluar ke tempat yang lebih nyaman. Taukah kamu kalau sebenarnya aku tersiksa karena saat itu bukan kamu yang berada di sampingku. Aku pun tau kamu masih mencoba mencariku walaupun tak kau perlihatkan secara tersurat. Belajarku untuk memberikan hati pada yang lain berhasil kamu gagalkan tanpa tindakan berarti yang kamu lakukan. Dan kamu cuma bisa terdiam ketika ternyata aku kembali setelah aku merasakan tempat yang "katanya" lebih nyaman. Namun ku rasa tidak. Bukan tanpa berpikir, akupun sempat membasahi mata seraya bertanya mengapa aku terlalu bodoh untuk melangkah, sebelum akhirnya aku kembali kepada teka-tekimu.

Aku kembali ke labirinmu, kamu kembali ke labirinku. Aku kira aku akan menjumpai labirin yang sama, ternyata tidak. Labirin yang memusingkan dan penuh tipuan kini seperti jalan yang penuh petunjuk, lancar sekali untuk aku lewati. Apalagi kamu. Kamu sudah pintar sekarang dalam menebak benar tentang aku. Yang katamu aku susah ditebak. Mmmm.. Aku bukan menulis pujian, aku hanya merasa nyaman. Kedua kalinya, menemukan kenyamanan pada orang yang sama :)