Hal yang ingin aku curahkan ini sebenarnya sering dirasakan, namun hanya sekedar dirasakan. Siang ini aku mendengar lagu yang berjudul "Lirih" yang dinyanyikan oleh Ari Lasso dan tenar sekitar tahun 2006 lalu. Aku mendengarnya di sebuah pusat perbelanjaan, di suasana ramai, dan aku hanya sekilas saja mendengarnya. Namun rasanya tetap ada yang beda, walaupun aku mendengarnya di suasana yang penuh distraksi aku tetap merasa sangat akrab dengan lagu itu. Kenapa? karena saat lagu itu tenar aku sempat suka dan kala itu sering memutarnya. Salah satu alasanku dulu suka dengan lagu itu karena liriknya sesuai dengan suasana hatiku kala itu.
Sedikit bercerita, kira-kira akhir tahun 2006 itu adalah masa-masa aku merasakan yang namanya cinta monyet. Pertama kalinya aku tau yang namanya pacaran (walaupun sekarang aku geli sendiri kalau mengingatnya haha), waktu sedang senang-senangnya punya pacar yang mungkin bisa dibilang banyak disukai remaja seusia itu, pacaran dengan anak band yang beda sekolah. Tapi seneng-senengku ternyata ga berlangsung lama. Akhirnya aku patah hati juga. Sejak itu lah aku galau-galauan dengan lagu "Lirih". Lagu itu menjadi lagu wajibku setiap hari kalo lagi sendirian di kamar. Entahlah waktu itu masih kelas 3 SMP tapi kok ya kayak udah merasa dalem banget merasakan perasaan yang sedemikian rupa.
Back to present.. Sekitar beberapa menit yang lalu aku iseng download lagu itu lagi, langsung aku pasang headset dan aku dengarkan. Mulai dari petikan gitar yang terdapat di intro lagu itu rasanya udah membawa ingatanku ke 11 tahun ke belakang. Rasanya sangat lebay jika aku katakan dengan jujur, namun sungguh aku tidak melebih-lebihkan. Rasanya seperti semua memory saat itu ter-recall. Siapa orangnya, siapa saja orang-orang yang bersamaku kala itu, tempat-tempat yang sering aku datangi kala itu, hingga ingatan tentang partikel angin seperti kembali aku rasakan. Rasa sesak di dada karena ingatan itu memang nyata tapi aku menikmatinya. Aku merasa ini adalah unik. Otak manusia unik dan luar biasa.
Kemudian entah sejak kapan aku menjadi agak strict, haha, aku baca salah satu jurnal penelitian biologi yang berjudul misic memory and emotion (Jancke, 2008), penelitian yang menggunakan metode sistematic review,. Ternyata memang hal yang aku rasakan memang scientific, bisa dibuktikan secara ilmiah. Mendengarkan musik berhubungan dengan perasaan emosional yang kuat, mengaktifkan sistem limbik di otak yang merupakan tempat memori dan emosi. Beberapa penelitian dalam review tersebut menyebutkan bahwa musik bisa berhubungan dengan suatu kejadian tertentu. Informasi autobiografi atau tentang diri sendiri berhubungan dengan dengan melodi musik bangkit saat kita mendengarkan musik atau saat kita berada dalam suatu percakapan tentang musik yang relevan dan peristiwa dalam hidup kita di mana saat musik tersebut terdengar berarti. Dan kesimpulan dari hasil review penelitian tersebut adalah bahwa memori musik sangat terkait dengan daya tarik. Dengan demikian, emosi tidak hanya menonjolkan kenangan akan materi verbal atau visual tapi juga untuk potongan musik. Musik
yang terdengar emosional dan telah kita dengar pada periode tertentu dalam hidup kita
sangat terkait dengan ingatan otobiografi kita dan karenanya sangat
terlibat dalam membentuk gambaran atau ingatan tentang diri kita sendiri. Dalam
hal ini menarik untuk dicatat bahwa mendengarkan musik tidak hanya membuat peningkatan aliran darah di daerah otak yang
terlibat dalam menghasilkan dan mengendalikan emosi, namun juga disertai
dengan peningkatan dan perubahan aktivasi otak secara umum, jaringan yang banyak di daerah otak dan sistem saraf perifer. Dengan
demikian, mendengarkan musik (bahkan saat kita mendengarkan secara
pasif) mengaktifkan banyak fungsi psikologis (emosi, memori, perhatian, imagery) yang berada di jaringan otak yang terdistribusi
dan tumpang tindih, jika musik memiliki pengaruh atau makna yang begitu kuat.