Rabu, 18 Juli 2012

Jauh Dari Kata Bonavit

Kehidupanku, dan kehidupan mahasiswa pada umunya kadang terlalu sombong untuk mau melihat keadaan kehidupan di sekelilingnya. Terlalu disibukkan dengan urusan akademis pribadi, organisasi kampus, dll yang membuat mereka tak lagi tajam melihat sesuatu yang sebenarnya paling dekat dengan mereka.
Tiga hari ini saya dan suatu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan mengadakan serangkaian kegiatan untuk sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggal saya. Timing kegiatan tersebut dilakukan saat masa orientasi siswa, yang pada umumnya disebut MOS. Sekolah-sekolah tersebut bukan sekolah yang bonafit, yang diserbu banyak siswa baru, melainkan hanya sekolah di desa, masyarakat menengah ke bawah, dan merupakan sekolah tujuan bagi siswa yang tidak diterima di sekolah negeri atau sekolah bonafit.
Pada kegiatan MOS pun tidak seperti sekolah-sekolah pada umumnya yang kegiatannya diserahkan pada Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Peran organisasi siswa di sana tidak banyak. Dan hanya diserahkan pada organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan tingkat cabang (kecamatan) tersebut.
Dari pandangan saya pribadi, awalnya saya merasa kaget dengan keadaan yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Mulai dari kelakuan para siswa, management sekolahnya, peraturannya, dan lain sebagainya. Amat sangat kontras dengan apa yang telah saya dapatkan selama di bangku sekolah, yang tertib dan tertata karena paraturan, dan siswa yang mentaati peraturan.
Saya tertarik mengamati bagaimana kualitas siswa di sana, yang saya lihat justru masalah krisis percaya diri dan low motivasi yang mendominasi. Namun di sisi lain juga ada masalah yang tidak kalah menarik perhatian. Mereka tentunya kurang mendapatkan didikan yang baik dari orang tua tentang sopan santun, pergaulan yang kurang sehat, dan pengaruh-pengaruh buruk yang sangat mudah mereka serap.
Dua masalah yang mendominasi, krisis percaya diri dan low motivasi. Pada saat kegiatan berlangsung tidak banyak siswa yang mau bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengekspresikan kemampuannya. Kecuali memang ada satu atau dua siswa yang menjadi "bos" di kelas dan dia memang paling berani "nyeplos" tapi juga cuma asal "nyeplos". Masalah low motivasi di sini terlihat saat kami ngobrol-ngobrol santai dengan mereka. Dari awal-awal saja mereka sudah mengunder estimatekan sekolah mereka. Mereka sendiri merasa kalau sekolah mereka sekolah buangan yang pasti kalah dengan sekolah-sekolah negeri. Berangkat sekolah semaunya, berpenampilan semaunya, dan malas mengikuti peraturan yang dibuat oleh sekolah. Menurut informasi dari guru juga tidak heran kalau selang beberapa waktu akan ada siswa yang keluar dan putus sekolah.
Begitu miris melihat fakta tentang pendidikan di sekitarku, masih banyak yang jauh dari layak. Motivasi, tolong datanglah pada mereka,,hinggaplah pada mereka,,biar kehidupan mereka kelak cerah..

hmm..bener-bener pengalaman yang sangat berharga aku bisa berinteraksi dengan mereka, memahami mereka, dan sedikitnya memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. oya, ini ada foto fotonya
  Brainstorming..



Materi di kelas

bareng siswa cewek


Games..

Games..

 hmm, sekian dulu ceritanya.. :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar