Ucapan selamat tinggal pada masa remaja seharusnya sudah aku ucapkan sejak aku mengarungi usia berkepala 2. sekarang umurku 22 tahun. Galau? iya galau. Kenapa aku galau? karena pengen nikah? bukan, bukan cuma itu. Karena sekarang aku berkeinginan harusnya bukan sekedar berkeinginan. Masa anak-anak yang jujur tanpa beban dan menyenangkan sudah lama lewat. Masa remaja yang badung juga baru saja sudah lewat. Kini aku masuk usia dewasa awal. Di masa dewasa ini dunia sosial dan personal dari diri menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
Masa dewasa masa dimana aku mempunya dorongan lebih kuat untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang, menjalin hubungan yang intim dengan teman hidup, dan berkeluarga. Penyelesaian masa studi dan berburu gelar sudah menjadi makanan wajib untukku. Semua itu untuk apa? ya, untuk hidupku, untuk hidup yang aku bangun sendiri bukan lagi di bawah payung perlindungan kedua orang tuaku. semua urusan yang sekarang masih menjadi tanggungan mereka akan dilimpahkan padaku dan teman hidupku sepenuhnya. Pasti, nanti pasti aku akan menikah.
Menikah adalah kesediaan sepasang individu untuk menjalin hubungan lahir dan batin yang kekal, dan diakui oleh agama, masyarakat, dan hukum. Kedengarannya simple dan menyenangkan bukan? Kita akan hidup bersama dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Berapa banyak waktu yang kita inginkan untuk bersamanya mudah saja untuk dilakukan. Tapi ingatlah, sepertinya menikah tidak sesimple itu. Menikah berarti aku bukan lagi sendiri, yang seenaknya melakukan hal yang ingin aku lakukan. Menikah artinya menyatukan dua individu dalam segala hal. Segala sesuatu akan menjadi lebih kompleks, emosional sebagai hal yang abstrak pun bisa menjadi masalah yang mengancam kapan saja selama 24 jam. Am I ready?
Mungkin ini baru point of view seorang yang masih awam aja tentang pernikahan. Baru bisa memandang ke arah itu. Mungkin baru mulai melangkahkan satu kaki untuk menujunya. Hubungan interpersonal yang spesial dengan lawan jenis pernah dan mungkin termasuk sering aku jalani. mengenal pribadi satu dengan yang lain. Setiap orang pasti berbeda. Dan aku akui aku juga mengalami kesulitan dalam hal yang lagi-lagi juga merupakan hal yang abstrak. Menyesuaikan kepribadian, dan berusaha untuk tidak membandingkan pacar dengan orang lain. ya, itu secara tidak sadar aku melupakannya. Aku sangat emosional dalam menjalin hubungan. Itu baru hubungan dimana aku dengan pacar hanya bertemu maksimal 8 jam, sudah sering bertengkar hebat. Tentu aku harus berpikir lebih jauh lagi kalau mau membehas tentang pernikahan. Thats it, baru satu masalah sudah rumit sepertinya. Di sana aku masih melihat banyak hal yang juga harus disesuaikan, bahkan semua hal. mulai dari gaya hidup, sampai hubungan keluarga besar. hmmm...
Sekarang aku baru melihat ke arah itu dengan menggunakan "keker". Namun fokusku bukan hanya sekedar ke sana, aku harus fokus dengan langkah kakiku yang sudah mulai melangkah. Studiku harus selesai demi mempertiapkan ke arahnya. finansial harus aku perbaiki demi ke arah sana juga, kepribadian pun juga hatus aku renovasi, dan memantapkan pilihan pada seseorang untuk menjadi partner perjalanan ku sampai destinasi "kami". Sampai saat ini perhatian ku masih tertambat pada seorang laki-laki yang menurutku tampan, tegas, dan bisa membuatku mengangguk pada kritik dan nasehatnya yang menjadikan aku dari pribadi yang sangat emosional pada pribadi lebih baik :')
That's my point of view :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar